Pencegahan, Pengendalian Kecacingan dan Deteksi Dini Anemia Anak di Dusun Hurnaladua dan Rupaitu Negeri Tulehu Kabupaten Maluku Tengah Tahun 2025

Theresia Natalia Seimahuira, Elpira Asmin, Nathalie Elischeva Kailola, Ritha Tahitu, Christiana Rialine Titaley, Josepina Mainase, Michelle Wilda Pattiwaellapia, Anggita Rumata, Tiara Dewi Prawira, Zechaniah Marciela Maelissa, Thristy Tandililing, Ayu Lestari, Siti Nur Aisyah Sehol, Mahajum Tuakia, Muhammad Uly Algiffari Hasibuan

Abstract


Penyakit kecacingan dan anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya pada anak usia dini. Kedua kondisi ini saling berkaitan karena infeksi cacing dapat mengganggu penyerapan zat besi, yang berujung pada anemia. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan informasi kepada ibu yang memiliki anak mengenai pencegahan dan pengendalian penyakit kecacingan dan anemia, serta melakukan deteksi dini anemia pada anak di Dusun Hurnaladua dan Rupaitu, Negeri Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah. Metode: Kegiatan dilakukan pada 23 September 2025 dengan sasaran 47 anak (bayi 0–11 bulan dan balita 12–59 bulan). Metode pelaksanaan mencakup penyuluhan kesehatan mengenai sanitasi, kebersihan diri, pencegahan infeksi kecacingan pada ibu, serta pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) menggunakan alat Hemocue. Ibu yang memiliki anak dengan anemia ringan mendapat konseling gizi, sedangkan anemia sedang–berat dirujuk ke puskesmas. Hasil: Dari 47 anak, 20 (42,55%) laki-laki dan 27 (57,45%) perempuan; 38 (80,43%) berusia 12–59 bulan. Hasil pemeriksaan menunjukkan 21 anak (44,68%) mengalami anemia ringan, dan 26 anak (55,32%) memiliki kadar Hb normal. Kegiatan edukasi memberikan informasi kepada ibu-ibu mengenai perilaku hidup bersih dan sehat, serta pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin. Kesimpulan: Program edukasi, pemeriksaan anemia, dan pemberian obat cacing massal efektif meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan kecacingan dan anemia. Kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkala untuk menurunkan prevalensi kedua penyakit ini di wilayah endemik

Worm infections and anaemia remain public health issues in Indonesia, particularly among young children. These two conditions are interlinked because worm infections can interfere with iron absorption, leading to anaemia. Objective: This initiative aims to provide education and information to mothers with children regarding the prevention and control of parasitic worm infections and anaemia, as well as to conduct early detection of anaemia in children in the hamlets of Hurnaladua and Rupaitu, Tulehu Village, Central Maluku Regency. Methods: The activity was conducted on 23 September 2025, targeting 47 children (infants aged 0–11 months and toddlers aged 12–59 months). The implementation methods included health education on sanitation, personal hygiene, and the prevention of worm infections in mothers, as well as haemoglobin (Hb) level testing using the Hemocue device. Mothers with children suffering from mild anaemia received nutritional counselling, whilst those with moderate–severe anaemia were referred to the community health centre. Results: Of the 47 children, 20 (42.55%) were male and 27 (57.45%) were female; 38 (80.43%) were aged 12–59 months. The examination results showed that 21 children (44.68%) had mild anaemia, and 26 children (55.32%) had normal Hb levels. The educational activities provided information to mothers regarding clean and healthy living practices, as well as the importance of regular health check-ups. Conclusion: The educational programme, anaemia screening, and mass deworming were effective in raising community awareness of the importance of preventing intestinal worm infections and anaemia. Similar activities need to be carried out periodically to reduce the prevalence of these two diseases in endemic areas.


Keywords


anak; anemia; edukasi Kesehatan; kecacingan; pencegahan

Full Text:

PDF

References


Aulia, A. H., Sudaryanto, & Arie, Y. (2024). Prevalensi infeksi kecacingan dan stunting pada balita di Kelurahan Sukorejo Gunungpati. Biokatalis: Jurnal Ilmu Biologi dan Pendidikan Biologi, 1(2), 70–75. https://doi.org/10.69972/biokatalis.v1i2.152

Arisanti, D., Anita, & Rahmawati, B. M. (2023). Edukasi personal higiene untuk mencegah kecacingan di SD Inpres Bukit Kelurahan Tamarunang Kecamatan Somba Opu Gowa. Lontara Abdimas, 4(1), 45–50. https://doi.org/10.53861/lomas.v4i1.363

Armaijn, L., Darmayanti, D., Buyung, S., & Hidayat, R. (2023). Faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko kecacingan pada anak sekolah dasar di Kota Ternate. Manuju: Malahayati Nursing Journal, 5(8), 2486–2498. https://doi.org/10.33024/mnj.v5i8.9284

Astuti, B. S. W., Azmi, F., Adnyana, I. G. A., & Benvenuto, A. F. (2022). Hubungan infeksi kecacingan dengan kejadian anemia pada balita di Kabupaten Lombok Tengah Provinsi NTB. Jurnal Kedokteran Unram, 11(1), 78–94.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2018). Riset kesehatan dasar (Riskesdas). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Dinas Kesehatan Provinsi Maluku. (2023). Profil kesehatan Provinsi Maluku tahun 2023. Dinas Kesehatan Provinsi Maluku.

Indraswari, N. L. A., Stientje, & Ruhban, A. (2025). Analisis higiene perorangan terhadap keberadaan telur cacing pada kuku siswa SD Negeri Pampang Kota Makassar. Sulolipu, 25(1), 146–152. https://doi.org/10.32382/sulo.v25i1.1401

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Pedoman pencegahan dan pengendalian penyakit kecacingan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman tatalaksana anemia defisiensi besi pada anak dan remaja. Direktorat Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Natasha, C. A., & Maulina, N. (2025). Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Kecacingan pada Siswa Sekolah Dasar Negeri 10 Kota Lhokseumawe. GALENICAL: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh, 4(6), 123-129.

Nugrahenia, A., Margawati, A., Wahyudi, F., & Utami, A. (2023). Hubungan stunting dengan anemia, morbiditas dan perkembangan anak usia batita di Puskesmas Kebondalem Pemalang. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia, 7(1), 1–8.

Owa, K., Sekunda, M. S., Tokan, P. K., & Ibrahim, M. C. (2025). Pemberdayaan keluarga dalam upaya pencegahan penyakit kecacingan dan stunting pada balita di Desa Gheoghoma Kabupaten Ende. Sentra Dedikasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(3), 82–92.

Pakpahan, J. E. S., Munir, C., Purba, J. A., Damanik, D. H., & Situmorang, S. H. (2024). Pencegahan cacingan pada anak balita di Kelurahan Sempakata Kecamatan Medan Selayang. JUMA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(2), 22–24.

Ristanti, W., & Setya, A. K. (2022). Pemeriksaan infeksi kecacingan pada balita dengan anemia di Posyandu Desa Nangsri Manisrenggo Klaten. Jurnal Teknologi Kesehatan (Journal of Health Technology), 18(2), 38–44. https://doi.org/10.29238/jtk.v18i2.1306

Sari, S. K., Oktaria, S., & Hasibuan, R. A. U. (2024). Hubungan kejadian kecacingan STH dengan swamedikasi penyakit kecacingan oleh orang tua dari anak SDN 106804 Percut. Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, 23(2), 258–265. https://doi.org/10.30743/ibnusina.v23i2.630

Sungkar, S., Sukartini, N., Wirastuti, A., & Tanjungsari, D. W. (2024). Erythrocyte and iron profiles in soil-transmitted helminth-infected children in a rural area in Banten, Indonesia. Medical Journal of Indonesia, 33(1), 13–16. https://doi.org/10.13181/mji.oa.247154

Tahlil, Sartika, S. D., & Abrar, H. K. (2025). Faktor risiko infeksi cacing pada siswa sekolah dasar di beberapa daerah di Indonesia periode tahun 2013–2020. Journal Medical Bosowa, 3(1), 7–12.

Trasia, R. F. (2022). Anemia defisiensi besi pada penderita penyakit infeksi parasit. Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, 4(2), 55–61.

Wibowo, R. C., Kurniawan, Y., & Triani, E. (2019). Hubungan kejadian kecacingan dengan anemia defisiensi besi pada anak-anak pengrajin gerabah di Lombok Barat. Jurnal Kedokteran (Unram Medical Journal), 8(3). https://doi.org/10.29303/jk.v8i3.4552

World Health Organization. (2021). Guidelines on control of soil-transmitted helminth infections in children. World Health Organization.




DOI: http://dx.doi.org/10.30659/abdimasku.5.2.99-107

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2026 Theresia N. Seimahuira, Elpira Asmin, Nathalie E. Kailola, Ritha Tahitu, Christiana R. Titaley, Josepina Mainase, Michelle W. Pattiwaellapia, Anggita Rumata, Tiara D. Prawira, Zechaniah M. Maelissa, Thristy Tandililing, Ayu Lestari, Siti Nur A Sehol

View My Stats