Peran Ketidakhadiran Ayah dalam Perkembangan Identitas Remaja Laki-Laki

Adinda Shatila Fatimatuzzahra, Ratna Supradewi

Abstract


Fenomena fatherless, yaitu minimnya keterlibatan sosok ayah dalam kehidupan anak, menjadi persoalan yang cukup meluas di Indonesia dan berpotensi memengaruhi proses pembentukan identitas remaja laki-laki, terutama di tengah pesatnya perkembangan media digital. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dampak emosional ketidakhadiran ayah terhadap remaja laki-laki, menganalisis peran media sosial dan figur pengganti dalam pembentukan identitas, serta menelaah proses perkembangan kemandirian sebagai bentuk adaptasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Partisipan penelitian dipilih secara purposive dan terdiri atas tiga remaja laki-laki berusia 15-20 tahun yang mengalami kondisi fatherless akibat kematian ayah, perceraian orang tua, dan ketidakhadiran ayah secara emosional. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan lima tema superordinat antarpartisipan, yaitu pengalaman ketidakhadiran ayah, kebingungan identitas maskulinitas, media sosial sebagai sumber alternatif pembentukan identitas, pencarian figur pengganti, serta kemandirian sebagai pola adaptasi. Ketidakhadiran ayah menimbulkan dampak emosional berupa kehilangan, kekosongan, kemarahan, dan perasaan diabaikan, yang kemudian memicu kebingungan dalam memahami peran maskulinitas, sejalan dengan status identity diffusion dalam kerangka Marcia. Media sosial berperan ganda, sebagai sumber belajar sekaligus pemicu perbandingan sosial yang menurunkan rasa percaya diri, terutama pada partisipan yang berusia lebih muda. Pada dua dari tiga partisipan turut ditemukan tantangan psikososial berupa kesulitan mengelola emosi dan iri sosial. Kemandirian berkembang secara bertahap sesuai usia dan lama waktu menjalani kondisi fatherless. Disarankan agar remaja fatherless mendapat dukungan lingkungan sosial dan figur pengganti yang positif guna membantu terbentuknya identitas yang sehat, serta penelitian lanjutan memperluas jumlah partisipan dan perspektif keluarga.


Keywords


fatherless; perkembangan identitas; remaja laki-laki; media sosial; fenomenologi

Full Text:

PDF

References


Amato, P. R. (2000). The consequences of divorce for adults and children. Journal of Marriage and the Family, 62(November), 1269–1287.

Ashari, Y. (2017). Fatherless in Indonesia and its impact on children’s psychological development. Psikoislamika, 15, 1–6.

Bandura, A. (1977). Social learning theory. Prentice Hall.

Boyd, D. (2014). It’s complicated: The social lives of networked teens. Yale University Press.

Connell, R. W. (2005). Masculinities (2nd ed.). University of California Press.

Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2016). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Sage Publications.

Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and crisis. W. W. Norton & Company.

Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140.

La Kahija, Y. F. (2017). Penelitian fenomenologis: Jalan memahami pengalaman hidup. PT Kanisius.

Lamb, M. E. (2010). The role of the father in child development (5th ed.). Wiley.

Maehler, D. B., & Hernández-Torrano, D. (2025). Identity development research: A systematic review of reviews. Self and Identity, 24(8), 907–942. https://doi.org/10.1080/15298868.2025.2549770

Marcia, J. E. (1966). Development and validation of ego-identity status. Journal of Personality and Social Psychology, 3(5), 551–558.

Marcia, J. E. (1980). Identity in adolescence. In J. Adelson (Ed.), Handbook of adolescent psychology (pp. 159–187). Wiley.

Mardianti, A. (2026). Hilangnya peran ayah dasari isu fatherless di Indonesia. Jurnal Pos Media. https://jurnalposmedia.com/hilangnya-peran-ayah-dasari-isu-fatherless-di-indonesia/

Masten, A. S. (2001). Ordinary magic: Resilience processes in development. American Psychologist, 56(3), 227–238.

Mekarisce, A. A. (2020). Teknik pemeriksaan keabsahan data pada penelitian kualitatif di bidang kesehatan masyarakat. Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat, 12(3), 145–151.

Muttaqin, D. (2020). The role of cultural orientation in adolescent identity formation: Self-construal as a mediator. Makara Human Behavior Studies in Asia, 24(1), 7–16. https://doi.org/10.7454/hubs.asia.1050719

Papalia, D. E., & Martorell, G. (2017). Human development (14th ed.). McGraw-Hill Education.

Pleck, J. H. (2010). Fatherhood and masculinity. In M. E. Lamb (Ed.), The role of the father in child development (5th ed., pp. 27–57). Wiley.

Saif, U. A. (2018). Saatnya ayah mengasuh. Strong From Publishing.

Sona, D., & Linsiya, R. W. (2025). Fenomena fatherless dari perspektif gender dalam melihat dampak pada relasi interpersonal. Jurnal Bimbingan dan Konseling Borneo, 7(1), 60–66.

Sugiyono. (2020). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Alfabeta.

UNICEF. (2021). Data anak Indonesia tanpa peran pengasuhan ayah (fatherless).

Valkenburg, P. M., & Peter, J. (2011). Online communication among adolescents: An integrated model of its attraction, opportunities, and risks. Journal of Adolescent Health, 48(2), 121–127.

Yundari, B., & Soetjiningsih, H. (2018). Pemaafan (forgiveness) oleh istri terhadap suami yang berselingkuh untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga. Humanitas, 2(3), 199–216.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
Proyeksi by https://jurnal.unissula.ac.id/index.php/takaya/ is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Web Analytics Made Easy - StatCounter View My Stat