Determining Quantity Model of Built-Up Occupancy Residential in Musi Banyuasin District
DOI:
https://doi.org/10.30659/jpsa.v21i2.35803Abstract
ABSTRACT
The determination of the quantity of dwellings in Musi Banyuasin district is a form of activity in seeing the development of the number of dwellings on built-up residential land when the existing data on the quantity of dwellings needed for the base year has not been obtained during secondary data collection. The importance of existing occupancy quantity data in planning activities, of course, is as a basis for determining the level of future occupancy shortages (projections). The purpose of this research is to determine the existing data on the number of dwellings in 2022 as an alternative form of providing the quantity of dwellings on built-up settlement land that will be used as planning data in Musi Banyuasin district. The method used is a quantitative approach with analytical methods, statistical, spatial and technical. Based on the results of the analysis, the quantity of dwelling units in Musi Banyuasin district on 7,528 hectares of built-up settlement land resulted in 205,962 dwelling units spread across all sub-districts with an average dwelling area of 148 square meters per house consisting of 124,441 households. These results are based on an assessment of the standard deviation and correlation level of 3 alternative comparison data, namely 213,645 dwelling units and 243,227 dwelling units, both of which have standard deviation and correlation values below the value of alternative 1.
Keywords: Settlement; Residential; Decision; Statistics; Technical
ABSTRAK
Penentuan jumlah hunian di Kabupaten Musi Banyuasin merupakan bentuk kegiatan untuk melihat perkembangan jumlah hunian di lahan permukiman terbangun ketika data eksisting mengenai jumlah hunian yang dibutuhkan untuk tahun dasar belum diperoleh selama pengumpulan data sekunder. Pentingnya data kuantitas hunian eksisting dalam kegiatan perencanaan tentu saja sebagai dasar untuk menentukan tingkat kekurangan hunian di masa depan (proyeksi). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan data eksisting mengenai jumlah hunian pada tahun 2022 sebagai bentuk alternatif penyediaan kuantitas hunian di lahan permukiman terbangun yang akan digunakan sebagai data perencanaan di Kabupaten Musi Banyuasin. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode analisis, statistik, spasial, dan teknis. Berdasarkan hasil analisis, jumlah unit hunian di Kabupaten Musi Banyuasin pada lahan permukiman terbangun seluas 7.528 hektar menghasilkan 205.962 unit hunian yang tersebar di seluruh kecamatan dengan rata-rata luas hunian sebesar 148 meter persegi per rumah yang terdiri dari 124.441 rumah tangga. Hasil ini didasarkan pada penilaian terhadap nilai standar deviasi dan tingkat korelasi dari 3 data perbandingan alternatif, yaitu 213.645 unit hunian dan 243.227 unit hunian, di mana keduanya memiliki nilai standar deviasi dan korelasi di bawah nilai alternatif 1.
Kata kunci: Permukiman; Hunian; Keputusan; Statistik; Teknis.
References
Fahmi, & Widyawati, R. (2020). Analisis Kebutuhan Pengembangan Perumahan Dan Kawasan Permukiman Kabupaten Pesisir Barat Tahun 2018 – 2037. Jurnal Profesi Insinyur Universitas Lampung, 1(2), 40–53. https://doi.org/10.23960/jpi.v1n2.49
Fahyudi, D. I., Christiawan, P. I., & Sarmita, I. M. (2020). Perkembangan Luas Permukiman Dan Penggunaan Lahan Pada. Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha, 8(3), 140–147. https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPG/article/view/29541/17270
Fasola, D., Purba, A., & Kustiani, I. (2022). Analisis Kebutuhan Pengembangan Perumahan Dan Kawasan Permukiman Kabupaten Tanggamus Tahun 2022 - 2041. Seminar Nasional Insinyur Profesional (SNIP), 2(2). https://doi.org/10.23960/snip.v2i2.189
Ilhan Alvaranty,Deasy Widyastomo, R. M. R. (2022). Studi Kelayakan Sarana Prasarana Dan Kebutuhan Lahan Perumahan Dikawasan Kelurahan Koya Barat, Distrik Muara Tami. Spasial, 1(8.5.2017), 2003–2005.
Nandang, D. (2011). Latar Belakang Peningkatan secara terus jumlah penduduk tidak dapat dampaknya adalah tumbuh suburnya permukiman informal . Ciri-ciri permukiman ini biasanya padat , kumuh , jorok , tidak ada layanan perkotaan dan mayoritas penghuninya miskin . menerus pen. 6(83), 79–88.
Nugroho, C., Agustang, A., & Pertiwi, N. (2022). Dinamika Pertumbuhan Kawasan Permukiman Kota Jambi. Jurnal Ilmiah Mandala Education, 8(1), 462–467. https://doi.org/10.58258/jime.v8i1.2664
Santosa, N. S., Sitorus, S. R. P., Machfud, M., & Sobandi, R. (2012). Analisis Keberlanjutan Kawasan Permukiman Perkotaan Cisauk di DAS Cisadane. Jurnal Permukiman, 7(2), 88. https://doi.org/10.31815/jp.2012.7.88-94
Yuliana, Y. (2021). Evaluasi Pelaksanaan Program Pengembangan Perumahan (Studi Pada Kantor Dinas Perumahan Dan Kawasan Permukiman Kota Palembang). Jurnal Ilmu Administrasi Dan Studi Kebijakan (JIASK), 3(2), 113–124. https://doi.org/10.48093/jiask.v3i2.52
BPS, 2021. Kabupaten Banyuasin Musi Banyuasin Dalam Angka
BPS, 2022. Kabupaten Banyuasin Musi Banyuasin Dalam Angka
Standar Nasional Indonesia 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan.
Riduwan, 2013. Belajar Mudah Penelitian. Penerbit ALFABETHA Bandung.
Pamekas. 2013. Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Kawasan Permukiman.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Authors who publish with this journal agree to the following terms:Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License. that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).

