Penegakan Hukum Pidana Terhadap Terdakwa Pengguna Narkoba Yang Menjalani Rehabilitasi Di Polda Jateng

Sepha Dwi Hananto, Anis Mashdurohatun

Abstract


ABSTRAK

 

Penelitian ini berjudul Kebijakan Penegakan Hukum Pidana Terhadap Terdakwa Pengguna Narkoba Yang Menjalani Rehabilitasi Di Polda Jateng. Tujuan Penelitian ini : 1)  Untuk mengetahui dan menganalisa penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana narkoba di Polda Jateng. 2) Untuk mengetahui dan menganalisa kebijakan hukum pidana dalam penggunaan narkoba dalam menjalani rehabilitasi di masa yang akan datang. 3) Untuk mengetahui dan menganalisa kendala dan upaya penanggulangan rehabilitasi terdakwa pengguna narkoba di Polda Jateng.

Hasil Penelitian : 1) Kondisi pemakai narkoba di Indonesia cukup memprihatinkan dan segera harus mendapatkan penanganan serius dari berbagai pihak, utamanya dari pemerintah Indonesia. Penanggulangan bahaya narkoba atas korban narkoba tidak cukup hanya menerbitkan Undang-Undang terkait bahaya narkoba. Tetapi kebijakan kriminal  pemerintah dituntut untuk lebih progress dan mencari pola-pola dan trobosan-trobosan baru agar pemakai dapat terselamatkan dan pulih secara normal, sebagaimana amanat Undang-Undang. Sebagaian pola tersebut sudah terlaksana di wilayah hukum Kota Semarang dengan tersangka SLAMET WIDODO bin WIDIYONO yang dengan positif menggunakan METAMFETAMINA (sabu) dengan hasil test urine tersangka diLaboratorium Forensik Kota Semarang BAP No. Lab : 922/NNF/2016, tanggal 20 Juni 2016 dan tersangka ditangkap dan tidak dilakukan penahanan tetapi tersangka SLAMET WIDODO bin WIDIYONO dititipkan di Balai Rehabilitasi Sosial Eks Penyalahguna Napza “Mandiri” Semarang, sejak hari Jumat, tanggal 17 Juni 2016, guna untuk pemulihan. 2)  Kendala Polda Jateng dalam melakukan upaya rehabilitasi menurut ketentuan yang berlaku yaitu masih banyak pecandu yang menolak untuk terisolir di sebuah tempat rehabilitasi. Hal ini disebabkan karena sebagian besar pecandu narkotika menganggap kehidupan di tempat rehabilitasi merupakan penderitaan bagi mereka yang masih berada dalam tahap kecanduan, terutama saat melewati kondisi putus zat/sakau. Pecandu ternyata sudah mengalami kondisi setengah gila (dual diagnosis ) ataupun sudah mengalami penyakit parah yang perlu penanganan medis khusus. Pecandu belum mau terbuka dan sadar bahwa narkotika itu sangat berbahaya. Pecandu takut dijadikan target operasi oleh kepolisian. 3) Upaya Polda Jateng dalam melakukan upaya rehabilitasi yaitu dengan menguatkan lembaga rehabilitasi. Hal ini dilakukan bagi korban penyalahguna narkotika yang dapat dibuktikan atau terbukti sebagai korban untuk dilakukannya rehabilitasi seperti yang diatur pada Pasal 54 Undang-Undang Narkotika. Dalam pelaksanaan Pasal 54 tersebut Polda Jateng melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga untuk memperlancar proses rehabilitasi dan memberikan himbauan serta sosialisasi kepada masyarakat termasuk siaran tv dan radio kepada masyarakat agar para pecandu bersedia untuk direhabilitasi di panti-panti rehabilitasi yang telah diselenggarakan oleh pemerintah.

Kata Kunci : Penegakan Hukum Pidana, Pengguna Narkoba, Rehabilitasi

ABSTRACT

This research entitled Policy of Criminal Law Enforcement Against Defendant Drug Users Undergoing Rehabilitation At Central Java Police. The purpose of this research: 1) To know and analyze law enforcement against perpetrators of drug crime in Central Java Police. 2) To know and analyze criminal law policy in drug use in rehabilitation in the future. 3) To know and analyze obstacles and efforts to overcome the rehabilitation of defendant of drug user in Central Java Regional Police.

Result of research: 1) The condition of drug user in Indonesia is quite concerning and must immediately get serious handling from various parties, mainly from Indonesian government. Drug countermeasures over drug victims are not enough to issue laws related to the dangers of drugs. But the government's criminal policy is required to be more progressive and look for new patterns and breakthroughs so that users can be saved and recover normally, as mandated by the Act. The pattern is already implemented in the legal area of Semarang City with suspect SLIDE WIDODO bin WIDIYONO who positively use METAMFETAMINA (sabu) with the result of urine test of suspect in Forensic Laboratory of Semarang City BAP No. Lab: 922 / NNF / 2016, June 20, 2016 and the suspect was arrested and not detained but suspect SLIDE WIDODO bin WIDIYONO was entrusted to the Hall of Rehabilitation for Ex-Drug Abuse "Mandiri" Semarang, from Friday, 17 June 2016. 2) Central Java Police obstacles in conducting rehabilitation efforts according to the prevailing provisions that is still a lot of addicts who refuse to be isolated in a rehabilitation place. This is because most narcotic addicts consider life in rehabilitation a suffering for those who are still in the addiction stage, especially when passing through the breaking conditions of substance / sakau. Addicts are already experiencing a half-crazy condition (dual diagnosis) or have experienced severe disease that needs special medical treatment. Addicts do not want to open and realize that the narcotics are very dangerous. Addicts fear being targeted by the police. 3) Central Java Police effort in conducting rehabilitation efforts is by strengthening rehabilitation institution. This is done for victims of narcotics abusers who can be proven or proven as victims for rehabilitation as provided for in Article 54 of the Narcotics Act. In the implementation of Article 54, the Central Java Regional Police cooperates with institutions to facilitate the rehabilitation process and to provide calls and socialization to the community including TV and radio broadcasts to the community so that addicts are willing to be rehabilitated in rehabilitation institutions which have been held by the government, private as well.

Keywords: Criminal Law Enforcement, Drug Users,  Rehabilitation


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.